photo: news.detik.com Jika keberangkatan saya dibiayai oleh uang jamaah lain yang tidak saya kenal, yang mungkin sekarang sedang menangis karena gagal berangkat, relakah saya? Jika benar bahwa setiap langkah saya di Masjidil Haram dibayar dengan keringat dan air mata saudara seiman, masih pantaskah saya disebut sebagai tamu Allah? Jika benar bahwa thawaf saya mengelilingi Ka'bah diiringi doa-doa putus asa dari mereka yang menjadi 'tumbal' keberangkatan saya, pantaskah saya mengharap keridhoan Allah atas ibadah umroh yg saya jalani?" Di kedalaman hati, kerinduan untuk bersimpuh di hadapan Ka'bah adalah panggilan suci yang tak tertahankan. Namun, realita pahit membentang: jalan menuju Tanah Suci kerap dikotori oleh mereka yang tega menjual mimpi dan mengkhianati amanah. Nama-nama seperti First Travel , Abu Tours , dan SBL (SolusiBalad Lumampah ) bukan sekadar berita hukum, melainkan monumen kelam yang mengajarkan bahwa memilih paket umroh membutuhkan k...